Minggu, 17 Juni 2012


I. Pendahuluan
            Setiap sufi mempunyai pengalaman spritual sendiri-sendiri dan berbeda termasuk imam Abd Al-Wahhab Asy Sya’rani yang mempunyai pengalaman spritual yang unik, yakni ketika ia terjatuh di sungai Nil ia di selamatka oleh seekor Buaya, walaupu pada umumnya  buaya akan menerkam setiap apa saja yang mendekatinya, namun berbeda dengan beliau yang sebaliknya di selamatkan oleh buaya. jika kita coba untuk menghubungkan dengan rasional, kita mungkin di antara kita pasti tidak menerima hal tersebut, tapi seperti itulah keistemewaan beliau.
Untuk tarekat yang di ikuti oleh beliau kami masih belum bisa menentukan walaupun ada di antara guru beliau yang seorang pengikut tarekat Az zadziliyah, tapi beliau sendiri mempunyai kesenangan belajar tarekat tersebut tapi dalam karya-karya beliau tidak  ada yang menyebutkan kalau beliau menganut ikut tarekat az zadziliyah. Beliau adalah seorang ahli sufi dan fikih. Terlihat dari karya-karya beliau yang banyak menerangkan tentang dua bidang keilmuan tersebut.
II. Biografi
Nama lengkapnya adalah Abd al-Wahhab ibn Ali ibn Muhammad ibn Zawfan ibn Syaikh Musa. Imam Al-Sya’rani adalah seorang sufi asal mesir dan juga ahli fikih syafi’i,[1] keterangan lain menjelaskan ia adalah seorang ahli fikih perbandingan hanafi[2] bukannya syafi’i namun ada penjelasan selanjutya yang mengatakna bahwa ia menganut Asy’ariyah dalam teologinya dan Imam Syafi’i[3] dalam mazhabnya dan banyak menulis buku-buku tentang fikih dan tasawuf. Lahir di perkampungan Qalaqsyandah, Mesir pada 27 Ramadhan 898 H/ 1493 M dan meninggal dunia di Kairo, Mesir pada 973 H/ 1565 M. Dalam silsilah keturunan, al-Sya’rani masuk dalam  keturunan Ali bin Abi Thalib melalui jalur keturun anaknya, Muhammad ibn al-Hanafiyyah. Al-Sya’rani sendiri adalah termasuk generasi kesembilan belas setelah Ali bin Abi Thalib. Pada usia empat puluh kelahirannya di Qalaqsyandah,  ia dipindahkan oleh orang tuanya ke kampung ayahnya, Saqiyah Abi Sya’rah,   dalam wilayah Manufiyah. Dengan demikian, dan sebutan al-Sya’rani berasal dari nama kampung ayahnya[4], sya’rah sebuah desa di wilayah mesir.[5]
Kedua orang tuanya meninggal saat ia berumur sepuluh tahun, Oleh sebab itu tanggung jawab terpundak pada kakaknya, Syaikh Abd al-Qadir. Sebagai seorang terpelajar, sang kakak membimbingnya dalam suasana keilmuan, kendati itu hanya terjadi beberapa tahun. Bimbingan orang tua dan kakak al-Sya’rani terhadap dirinya, meskipun tidak lama telah meninggalkan pengaruh yang demikian mendalam dalam perjalanan hidupnya. Kehidupan keluarga dalam suasana kesufian yang sederhana ternyata telah membangkitkan semangat belajar dan keuletan hidup yang luar biasa pada diri as-Sya’rani. Sejak kecil ia telah mampu menghafal al-Quran tepatnya saat umur 8 tahun[6], kemudian ia juga menghafal Matn Abi Syuja’ , kitab permulaan pelajaran fikih, dan Matn al-Ajrumiyyah, kitab permulaan tata bahasa arab. Kedua kitab itu dipelajarinya dari kakaknya sendiri , Abd al-Qadir ibn Ahmad, yang menggantikan ayahnya mengajar di zawiyah.
Dengan kesederhanaan hidupnya as-Sya’rani memiliki motivasi dalam dirinya untuk senantiasa belajar dan berupaya hidup mandiri sehingga mendorongnya meninggalkan kampung halaman dan menuju Kairo. Kemudian Ia diperbolehkan tinggal di massjid jami’ Sayyid Abu al-Abbas al-Ghamri bersama keluarga syekh dan mengajar dimasjid itu. Ketertarikan syekh Abu abbas terhadap as-Sya’rani membuatnya diangkat sebagai anak sendiri bagi Abu Abbas. Tanpa pamrih mereka membesarkannya dan membiayainya belajar sampai umur tujuh belas tahun.
Setelah umur tujuh belas tahun as-Sya’rani pindah ke Madrasah Umm Khund. Disini kepiawaian dan kecerdasannya semakin cemerlang. Pengetahuan yang luas telah membawa keharuman namannya dalam berbagai bidang ilmu keagamaan, sehingga ia dikenal sebagai seorang ulama yang didatangi oleh para siswa untuk menimba ilmu.
Kendati dapat mengenyam berbagai kemewahan duniawi, jiwa as-Sya’rani senantiasa terpanggil untuk hidup dalam suasana kesederhanaan. Sebab itu ia bergabung dengan sejumlah syaikh sufi untuk mendapatkan kasyf (ketersingkapan batin). Dalam pencarian ruhani itu, al-Sya’rani bertemu dengan seseorang yang dikatakannya sebagai orang yang telah membimbingnya. Gurunya itu adalah seorang tunanetra yang ummi (buta aksara), Ali al-Khawwas (w. 938 H/ 1532 M).
Ali al-Khawwas, pembimbing ruhani al-sya’rai, adalah seorang penganut tarekat Syadziliyah. Karena itu, perjalanan ruhani al-Sya’rani tidak dapat dipisahkan dari tradisi Syadziliyah. Selain banyak mendapatkan bimbingan ruhani dari Ali al-Khawwas, al-Sya’rani juga mendapat bimbingan ruhani dari sufi lain yaitu Muhammad al-Syinnawi. Selain itu al-Sya’rani menerima inisiasi (pengajaran) tarekat-tarekat Suhrawardiyah. Dia enjelaskan silsilah tarekat yang diterimanya ini secara detail dalam karyanya al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifat Qawa’id al-Sufiyyah.
III. Pengalaman Ruhani
Sebagai seorang sufi yang telah mencapai peringkat wali, al-Sya’rani memiliki pengalaman ruhani yang amat kaya. Diceritakannya sendiri, suatu pengalaman batinnya (melalui mimpi). “Biasanya aku mengeluarkan zakat sebelum habis puasa, namun kebiasaan itu tak terlaksana karena aku tak memiliki barang-barang duniawi pada malam Idul Fitri dan juga hari berikutnya, segala yang telah dikaruniakan Allah kepadaku telah kunafkahkan kepada fakir-miskin yang tinggal bersamaku. Pada 955 H (1548 M) aku pernah melihat diriku berada di sebuah gurun bersama orang-orang beriman. Aku melihat sesuatu yang mirip dengan bantal sebesar buah semangka terhantar di depan kami. Lalu ku lihat seseorang diantara kami melemparkan benda itu kearah atas, namun jatuh lagi ke tanah. Aku menanyakan kepada malaikat yang menyaksikan tindakan kami. Malaikat itu mengatakan  bahwa benda itu adalah puasa Ramadhan yang telah kami lakukan. Selain pengalaman ruhani diatas, beliaupun sering melakukan ziarah ke kuburan orang-orang saleh, antara lain kuburan Syaikh Abu al-Abbas al-Mursi, yang dikunjunginya ssetiap hari sabtu, begitu juga kuburan umum al-Qarafah, yang di ziarahinya setiap pekan. Disebut-sebut bahwa dia memiliki kemampuan ruhani untuk berdialog dengan ruh-ruh orang-orang yang meninggal dunia dan Dia juga memiliki kemampuan spiritual untuk berdialog dengan jin.
Asy-Sya’rani meyakini bahwa kemampuan luar biasa yang dimilikinya itu adalah karuia Allah semata. Ketika berbicara tentang karamah (keramat) para wali, al-Sya’rani menganggap bahwa kejadian luar biasa pada orang-orang saleh merupakan karunia Ilahi kepada mereka, sebagai tanda bahwa mereka adalah wali Allah yang disayangi-Nya. Kejadian terssebt tidak dapat dicari dan ditransfer kepada orang lain. Para wali hanya bisa mentransfer barakah (berkah) kepada orang lain. Cerita-cerita luar biasa yang dialami al-Sya’rani seperti itu banyak dipaparkannya dalam karya otobiografisnya, “Lataif al-Minan”.
IV. Karya-Karyanya
1.      Al-Jawahir wa al-Durar al-Kubra (Mutiara-mutiara dan Permata-permata agung)
2.      Al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Aqa’id al-Akabir (Permata-permata Yakut dan Mutiara-mutiara tentang Akidah-akidah para ulama Besar [kalangan sufi])
3.      Al-Tabaqat al-Kubra (peringkat-peringkat atau generasi-generasi yang Agung) atau disebut juga Lawaqih al-Anwar fi Tabaqat al-Akhyar (kilatan-kilatan Cahaya tentang Peringkat-peringkat atau generasi-generasi Orang-orang Terpilih)
4.      Al-anwar al-qudsiyyah fi ma’rifat qawa’id al sufiyyah (cahaya-cahaya kudus dalam hal mengenal kaidah-kaidah para sufi).
5.      Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah fi Bayan al-Uhud al-muhammadiyyah (kilatan-kilatan kudus dalam meenjelaskan jani-janji (pesan-pesan) Muhammad.
6.      Al-Kibrit al-Ahmar fi Uluww al-Syaikh al-Akbar (belerang Merah (pemaparan) tentang kemuliaan Syaikh al-Akbar [ibnu Arabi].
7.      Al-Qawa’id al-Kasfiyyah fi al-Illahiyyah (kaidah-kaidah Ketersingkapan tetang sifat-sifat Ketuhanan
8.      Masyariq al-Anwar al-Qudsiyah fi Bayan al-Uhud al-muhammadiyyah (pancaran cahaya-cahaya kudus tentang penjelasan janji-janji [pesan-pesan] Muhammad).
9.      Madarik al-safilin ila Rusum Tariq al-arifin  (alur pengetahuan kelas rendah munuju sketsa Jalan orang-orang Arif)
10.  Lata’if al-Minan  (kelembutan-kelembutan karunia)
11.  Mizan al-Kubra (Neraca Yang Agung). dlls
V. Silsilah Imam Al Sya’rânî
لفن
NABI MUHAMMAD SAW
لفن
ALI BIN ABI THALIB
لفن
HASAN AL BASRI
لفن
HABIB AL ‘AJAMI
لفن
DAWUD AT THAI


لفن
MA’RUF AL KURKHI

لفن
SIRRI SAQTHI

لفن
QASIM AL JUNAIDI


QADI  RUWAIM (( الفاض رويم
لفن

MUHAMMAD IBN KHAFIF ASY SYAIRAZI
لفن

لفن
ABIL ‘ABBAS AN NAHAWANDI


لفن
FARIJ AL ZANJANI


لفن
AL QQDHI AL WAJIHUDDIN
لفن
ABU AN NAJIB AL SUHRAWARDI
لفن
SYIHABBUDDIN AL SUHRAWARDI
لفن
SYAIKH NAJIBUDDIN BARGHUSY ASY SYAIRAZI
لفن
SYAIKH ABDUS SHOMAD AL NATHTARI
لفن

SYAIKH HASAN AL SYAMSIRI
لفن

SYAIKH NAJIMUDDIN
لفن
MAHMUD AL ASHFAHANI
لفن
YUSUF AL ‘AJAMI AL KURANI
لفن

SYAIKH HASAN AL TASTIRI
لفن


AHMAD BIN SULAIMAN AL ZAHIDI
لفن

YAIKH MUDIN ( (الشيخ مدين
لفن

SYAIKH MUHAMMAD (KEPONAKAN (الشيخ مدين
لفن
MUHAMMAD SARWI DAN SYAIKH ‘ALI AL MURSHOFI


‘ABDUL WAHHAB BIN AHMAD AYS SYA’RANI

VI. Pokok Pemikiran
1.      Tasawuf adalah suatu perjalanan hidup yang diatur oleh al-Qur’an dan al-Sunnah, perilaku sufi adalah perilaku para nabi dan orang-orang suci dan hal iu tidak akan tercela selama tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan al-sunnah, maka terserah kepada orang-orang islam untuk melakukanya. Ajaran tasawuf bukan sesuatu yang wajib di ikuti, melainkan hanya utuk memperindah perjalanan hidup.
2.      Tasawuf adalah ilmu yang terbit dari hati para wali tatkala memancari dan mantul dari tingkah laku mengamalkan al-Qur’an dan al-Sunnah. Setiap amal daripadaya memancar sinar-sinar ilmu, akhlak dan rahasia-rahasia yang sulit diuraikan dengan kata-kata.
3.      Bagi orang orang yang mempelajari tasawuf, mereka harus hati-hati dan menghindari mempergunakan kata-kata yang terdapat dalam kitab suci tertentu seperti: “ruhku bersatu dengan roh-Nya,” “apa yang ada ini adalah Allah,” Allah ada di dalam hati sufi, penggunaan kata-kata semisal ini dilarang untuk umum.[7]
Dalam kitab al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifat Qawa’id al-Sufiyyah (cahaya-cahaya kudus dalam hal mengenal kaidah-kaidah para sufi). Dalam salah satu babnya ia menulis sebuah kaidah-kaidah jala menuju tasawuf  dan bab yang menjelaskan bahwa wali Allah itu hidup di dalaam kuburnya[8]. Namun dalam kitab al-mizanul kubra kitab yang membahas perbandingan mazhab dan pertimbangan hukum islam, ia dalam mukadimahnya mengatakan,                  
            “para pengkaji syariat juga telah sepakat bahwa seseorag tidaklah di sebuah ‘alim (‘ulama) kecuali jika ia menghindari pertentangan berbagai pendapat para ulama dan mengetahui bahwa para ‘ulama itu mengambil dasar dan hadis, bukan karena menentang pendapat Ulama sebab kebodohan dan kebenciannya[9].
Dalam kitab ini, juga ada satu pasal yang menjelaskan tetang mungkinkah berbagai  mazhab itu di padukan?, ia menjawab dengan jawaban Imam muhammad bin malik yang mengatakan jika ilmu itu pemberian dari Allah daan bersifat ladunni, maka tidak mungkin Allah mennyembunyikannya lagi bagi generasi selanjutnya[10]. Itu artinya memadukan berbagai mazhab itu bisa dan mungkin akan terjadi di suatu saat.
kaidah-kaidah menuju jalan tasawuf dalam kitab al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifat Qawa’id al-Sufiyyah jilid I
1.      Adab murid terhadap Syaikh
2.      Pilar-pilar menuju jalan tasawuf
3.      Menjaga diri
4.      Taubat yang benar
5.      Bagaimana dalam memilih gurunya. Dan masih ada yang lain
Dan jilid II
1.      Adab murid terhadap syaikh
2.      Kelembutan cinta
3.      Tidak sah memasuki jalan sufi sebelum bertaubat
4.      Sifat-sifat orang yang mencintai
5.      Bahasa orang yang asyik (mabuk cinta)
6.      Sufi yang benar
Namun yang kami tekankan adalah mengenai pilar-pilar menuju tasawuf menurutnya rukun-rukun jalan menuju tasawuf ada empat yaitu: lapar, Kontenplasi (Renungan), menahan lapar, dan sedikit berbicara. Dan rukun-rukun yang lain akan mengikuti, jika kita melakukan salah satu rukun rukun tersebut. Jadi rukun-rukun tersebut tidak terasa berat jika kita ingin melakukannya. Dan dalam buku yang sama jilid II ia memberikan tambahan yakni tidak sah memasuki jalan sufi sebelum bertaubat[11].




[1] Azyumardi azra 31
[2] Ensiklopedia akidah 169
[3] Azyumardi azra
[4]Azyumardi azra 31
[5] http://al-ishlah.com/?p=440 diakses pada tanggal 15 april 2012

[6]Hasil penelitian sri mulyati dan wiwi st.  FU uin jakarta
[7] Sri mulyat 97
[8] al-Anwar al-Qudsiyyah fi Ma’rifat Qawa’id al-Sufiyyah, 98
[9]  Almizanu kubra h 2
[10]ibid 40
[11] Sri Mulyati 100-101

Rabu, 11 Januari 2012

1. Pendahuluan
            Allah menganugerahkan sebuah akal kepada manusia yang menjadikan manusia lebih istemewa dari makhluk yang lain. Dan sudah menjadi sifat bagi akal untuk selalu berfikir dan selalu ingin tahu pada hal-hal baru di sekitarnya  termasuk dirinya sendiri. Dan menjadi pengetahuan baru bagi dirinya, oleh karenanya pengetahuan bukanlah di bawa sejak lahir melainkan melalui kerja aktif akal itu sendiri. Pengetahuan ada dua bentuk: pertama, pengetahuan yang di peroleh bukan berdasarkan usaha aktif dari manusia yakni melalui wahyu, kedua, pengetahuan yang diperoleh dari usaha aktif manusia melalui akal.
            Dalam makalah ini mencoba menerangkan pengetahuan dari seorang tokoh islam yang mempergunakan akal untuk memperoleh pengetahuannya. Yakni al-kindi selaku tokoh filsafat islam yang pertama yang mencoba menggali penghetahuan dari akalnya. Al-kindi Dalam filsafatnya  melahirkan sebuah pandanganp-pandangan mengenai tuhan, jiwa dan Alam. Namun jika makalah ini kurang atau tidak mengenai sasarannaya harap dimengerti.
2. Riwayat Hidup Al-Kindi
Nama lengkap al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn Isma`il ibn Muhammad ibn al-Asy’ath ibn Qais al-Kindi. Seorang tokoh filsafat islam bisa dikatakan merupakan filsuf pertama yang lahir dari kalangan Islam. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia juga mahir berbahasa Yunani.[1] Gelar al-kindi dinisbatkan pada kata Kindah[2] yakni suatu kabilah yang terkemuka pra-Islam yang merupakan Bani kahlan yang menetap di Yaman.[3]
            Al-Kindi lahir di Kuffah sekitar tahun 185 H (801 H) dari kelurga kaya dan terhormat. Kakek buyutnya salah satu sahabat nabi yang gugur sebagai Syuhada’ pada perang melawan persia di irak yang bernama Al-Asy’as ibnu Qais. Dan ayahnya, Ishaq ibnu Al-Shabbahalah Gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi (775-785 M) dan Al-rasyid (786-809 M).[4] Sedangkan Al-Kindi sendiri hidup di masa pemerintahan Daulah ‘Abbasiyah, yaitu Al-Amin (809-833M.), Al-Mu’tashim (833-842 M), Al-wathiq (842-847 M), dan Al-Mutawakkil (847-861 M).[5] Pada pemerintahan daulah Abbasiyah Al-Kindi berkembang didukung oleh minat khalifah yang ingin belajar ilmu pengetahuan dan filsafat. Al-Kindi juga mendapatkan kedudukan yang terhormat sebagai guru bagi Ahmad putra Al-Mutasim.[6]
            Al-Kindi dipandang sebagai filosof bangsa Arab yang pertama, tidak hanya karena sebagai pecinta kearifan yang pertama, di antara rekan sebangsanya, tetapi juga karena metode, sikap dan penjajaganya pada bidang-bidang penyelidikan yang baru. Dari pendekatannya pada hal-hal baru inilah yang memberinya gelar Failasuf.[7]  karena apa yang ia perkenalkna dalam bidang filsafat murni, sebenarnya hanya sedikit mengundang ide-ide asli dari dirinya, sekalipun ia memilki pemikiran bebas.[8] Ia layak dijajarkan dengan filosof-filosof Muslin non-Arab. Dan sumbangan Al-kindi yang sangat berharga dalam filsafat Islam ialah usahanya untuk membuka jalan dan menjawab rasa enggan dari umat islam lainnya untuk menerima filsafat, yang terasa asing pada saat itu.[9]
            Al Kindi menuliskan banyak karya dalam berbagai bidang, geometri, astronomi, astrologi, aritmatika, musik(yang dibangunnya dari berbagai prinip aritmatis), fisika, medis, psikologi, meteorologi, dan politik.[10] Tetapi, di antara sekian banyak ilmu, ia sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika, bagi al-Kindi, adalah mukaddimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukaddimah ini begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geometri dan astronomi. Yang paling utama dari seluruh cakupan matematika di sini adalah ilmu bilangan atau aritmatika karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun. Di sini kita bisa melihat samar-samar pengaruh filsafat Pitagoras.[11]
            Menurut al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu. Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu. Ia mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan pengetahuan manusia. Karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat, surga, neraka, dan kehidupan akhirat. Dalam semangat ini pula, al-Kindi mempertahankan penciptaan dunia ex nihilio, kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan wahyu, dan kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan.[12]
            Dalam karyanya tentang Filsafat Pertama, Al-Kindi mengatakan: “Yang paling luhur dan paling mulia di antara segala seni manusia adalah seni filsafat, yang digambarkan sebagai pengetahuan tentang segala hal, sejauh batas kemampuan manusia. Tujuan Filosof adalah untuk samapi pada kebenaran, dan tujuan dari tidakannya adalah berbuat yang sesuai dengan kebnenaran.[13]
            Al Kindi mengumpulkan berbagai karya filsafat secara ensiklopedis, yang kemudian diselesaikan oleh Ibnu Sina (Avicenna) seabad kemudian. Ia juga tokoh pertama yang berhadapan dengan berbagai aksi kejam dan penyiksaan yang dilancarkan oleh para bangsawan religius-ortodoks terhadap berbagai pemikiran yang dianggap bid'ah, dan dalam keadaan yang sedemikian tragis (terhadap para pemikir besar Islam) al Kindi dapat membebaskan diri dari upaya kejam para bangsawan ortodoks itu.[14]
            Mengenai kapan Al-Kindi meninggal tidak terdapat satu keterangan pun yang pasti, untuk menentukan tahun wafatnya sama sulinya dengan menentukan kapan Al-kindi lahir dan siapa saja guru yang mendidiknya. Namun Mustafa ‘Abd Al-raziq mengatakan tahun wafatnya adalah 252 H, sedangkan Masignon menunjukkan tahun yang berbeda yakni 260 H, sementara itu Yaqut Al-Himawi mengatakan bahwa bahwa Al-kindi wafat sesudah usia 80 tahun.[15]
3. Filsafat Al-Kindi
            Membahas filsafat Al-kindi tentunya banyak hal yang perlu dipelajari namun dalam makalah ini pemakalah menerangkan secara global mengenai bagian metafisika, antropologi, dan etika.
1. Metafisika
            Metafisika adalah hakikat dari filsafat Muslim-Arab karena dalam bidang metafisika inilah filosof muslim banyak menyumbangkan ide-idenya. Tetapi sumber metafisika mereka yang utama adalah mengambil teori metafisika dari Plotinus, terutama tentang teori emanasinya. Berbeda dengan Al-kindi, ia lebih tertarik pada teori metafisika dari Aristoteles. Bagi Al-Kindi metafisika adalah “Ilmu pengetahuan tentang apa yang tidak bergerak:, atau ilmu pengetahuan tentang Illahiyah. Ia menggambarkan metafsika merupakan sesuatu yang termulia dan tertinggi dari segala macam filsafat,[16] Dalam metafisikanya Akindi menjelaskan tentang Wujud, dan Alam.
a. Tuhan
            untuk membuktikan eksistesi Tuhan Al-Kindi mengambil dari proses diciptakannya Alam, karena Alam diciptakan dalam waktu (Muhdats), ­maka Al-Kindi berpendapat bahwa alam mempunyai pencipta (Muhdits).[17] Tulisan Al-Kindi mengenai Tuhan antara lain Filsafat al-Ula dan Fi Wahdaniyyat Allah wa  TanahiJirm al-Alam. Dari tulisannya tersebut Al-Kindi menjelaskan bahwa Allah adalah wujud yang sebenarnya, bukan berasal dari ketiadaan yang kemudian menjadi ada. Ia mustahil tidak ada dan selalu ada dan akan ada selamanya. Allah adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujud-Nya tidak berkahir, sedangkan wujud yang lain dan disebabkna oleh wujud-Nya.[18]
            Ia juga membuktikan eksistensi tuhan berdasarkan dalil al-inyah[19] yakni dengan melihat susunan alam semesta dan adanya keserasian, keteraturan dan rancangan yang nampak jelas pada manusia di alam ini, menunjukkan adanya sang perancang, yang bertanggung jawab atas keserasian dan keteraturan alam yang begitu mengagumkan.
b. Alam
            Di dalam risalahnya yang berjudul al-ibanat ‘an al-‘illat al-Fa’ilat al-Qaribat fi kawn al-Fasat, pendapat al-kindi sejalan dengan Aristoteles bahwa benda di alam ini dapat dikatakan wujud yang aktual apabila terhimpun empat ‘illat, yakni:
  1. Al-Unshuriyyat (materi benda)
  2. Al-shuriyyat ( bentuk benda)
  3. Al-fa’ilat (pembuat benda)
  4. Al-Tamamiyyat (manfaat benda)[20]
Istilah alam (nature) digunakan dalam dua pengertian yang berbeda. Pertama, diartikan sebagai jumlah obyek-obyek fisik dan material. Apa pun yang material adalah alami (natural), kata al-Kindi. Dan pengertian kedua yakni alam yang berarti diam dan prinsip primer tentang gerak. [21]
2. Antropologi
Menurut Al-Kindi, jiwa itu sederhana tidak tersusun atau basithah, mulia, sempurna dan penting. Sebtansinya (jauhar) berasal dari subtansi Tuhan, seperti sinar berasal dari matahari. Jiwa mempunyai wujud tersendiri dan lain dari badan. Sebagai bukti ini Al-Kindi mengemukakan bahwa kenyataan jiwa menentang keinginan nafsu yang berorientasi bagi kepentingan badan. Jika perlu sesuatu waktu marah mendorong  manusia untuk berbuat sesuatu, maka jiwa akan melarang dan mengontrolnya, seperti penunggang kuda yang hendak menerjang terjang. Jika nafsu syahwat muncul kepermukaan, maka jika akan berpikir bahwa ajakan syahwat itu salah dan membawa pada keerendahan, pada saat itu jiwa akan menentang dan melarangnya. Hal ini menunjukkan bahwa jiwa itu lain dari nafsu yang dimiliki badan.
Selanjutnya, menurut Al-Kindi bahwa jikwa manusia itu memmpunyai tiga daya, yaitu daya berpikir (al-quwwah al-‘aqliyah), daya marah (al-quwwah al-ghadhabiyah), dan daya syahwat *al-quwwah al-syahwaniyah).[22] Daya berpikir itu disebut akal. Akal terdiri dati tiga tingkat : (1)  Akal yang masih bersifat potensial (al-quwwah); (2) Akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi akatual (Al-Fi’I); (3) Dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas (al-‘ql al-tsany), akal kedua. 
Menurut Al-Kindi, jiwa itu kekal dan tidak hancur bersama hancurnya badan. Jiwa tidak hancur karena subtansinya dari Tuhan. Ketika jiwa berada dalam badan, ia tidak boleh kesenangan yang sebenarnya dan pengetahuannya tidak sempurna. Baru setelah ia berpisah dengan badan, ia akan memperoleh kesenangan yang sebenarnya dalam bentuk pengetahuan yang sempurna. Setelah berpisah dengan badan, jiwa pergi ke Alam Kebenaran atau Alam Akal (al-‘alam a- haq, al-‘alam al-aql) didalam lingkungan cahaya Tuhan, dekat dengan Tuhan dan dapat melihat Tuhan. Tempat inilah kebahagiaan abadi yang akan dirasakan pleh jiwa yang suci.[23]
3. etika[24]
            Al-kindi menganggap bahwa tujuan terakhir terletak pada hubungannya dengan moralitas, sedangkan tujuan filosof adalah untuk mengetahui kebenaran dan kemudian berbuat sesuai dengan kebenaran tersebut.[25] Dan tujuan ilmu pengetahuan etika sendiri adalah untuk memperoleh kebajikan dan menghindari keburukan. Karena pada dasarnya pengetahuan tidak hanya untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, tetapi turut membantu memelihara kemurnian jiwa yang merupakan satu-satunya cara untuk menyatukan kedua hal tersebut.[26]
            Namun yang menjadi menaraik pada etika al-kindi bahwa karena sifat alaminya manusia maka mereka cenderung untuk melakukan kebaikan. Lebih lanjut Al-Kindi mengatakan bahwa pada hakekatnya dalam pikiran  manusia itu terdapat sifat ke illahiyan, maka manusia dinilianya akan cenderung pada kebaikan, sedangkan keburukan itu bertolak belakang dari sifat manusia. Dengan mengatakan “Apa yang benar adalah sifat sejati manusia, sedangkan apa yang buruk hanyalah suatu aksiden”.[27] Keburukan itu berasal dari nafsu yang didorong oleh nalar.
3. kesimpulan
            Al-kindi adalah tokoh filsafat islam yang pertama yang menyumbangkan banyak ide-idenya pada rancah filsafat, seorang tokoh yang hidup pada zaman kekhalifaahan bani abbasiyyah yang mampu menari minat para khalifah untuk mempelajari ilmu pengetahuan terutama filsafat. Al-Kindi juga terlihat tidak menolak filsafat yang dibawa oleh zaman sebelumnya bahkan ia memasukkan teori mereka dalam ide barunya aristoteles, plotinus dan hellenistik yang mewarnai alam pikiran Al-Kindi. Namun tidak hanya tentang filsafat yang dipelajari oelh Al-Kindi melainkan banyak karyanya yang menerangkan cabang ilemu pengetahuan yang lain.











DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Haru. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Jakarta : Bulan Bintang, 1978
N. Atiyeh,George.  AL-KINDI Tokoh Filosof Muslim. terj. Kasidjo Djojosuwarno. Bandung: Penerbit Pustaka, 1983
Zar , Sijaruddin. Filsafat Islam (filosof dan filsafatnya). Jakart: PT RajaGrafindo Persada, 2010



           





[1]. http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Kindi, diakse pada tanggal 09 januari 2012
[2] Suku Kindah adalah Kahlani cabang Sabaean Kerajaan Marib (pusat Yaman ) pada awal abad ke-3. Mereka memainkan peran utama dalam Sabaean- Hadramite perang. Dengan kemenangan Sabaean, sebuah cabang dari Kindah didirikan sendiri di Hadramaut , dan mayoritas Kindah kembali ke tanah mereka ke timur Marib. Dari http://en.wikipedia.org/wiki/Kindah
[3] Sama dengan yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Sijaruddin Zar, M.A dari Muhammad Syafiq Gharbal, al-Mausu^’at al-Arabiyyat al-Muyassarat, (Kairo: Dar al-qalam & Faklin Foundation, 1965), hlm. 1383
[4] Prof. Dr. H. Sijaruddin Zar, M.A, Filsafat Islam (filosof dan filsafatnya), (Jakart: PT RajaGrafindo Persada,2010), cet, 4, H. 37-38
[5].  George N, Atiyeh, AL-KINDI Tokoh Filosof Muslim, terj. Kasidjo Djojosuwarno (Bandung: Penerbit Pustaka, 1983), h. 1
[6]. Prof. Dr. H. Sijaruddin Zar, M.A, Op. Cit, h. 40
[7].
[8]. Ibid, h. 9
[9]. Prof. Dr. H. Sijaruddin Zar, M.A, Op. Cit, h. 41
[10]. http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Kindi, di akses pada tanggal 09 januari 2012
[12]. Ibid.
[13].  Sama dengan yang dikutip oleh George N. Atiyeh dari M.A. Abu ridah dalam buku Al-Kindi, On First Philosphy, dalam Rasa’il al-Kindi al-Falsafyah, (Kairo: 1950-1953
[14].  http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Kindi, di akses pada tanggal 09 januari 2012
[15]. Sama dengan yang dikutip oleh Prof. Dr. H. Sijaruddin Zar, M.A dari M. M. Syarif, Alam Pikiran Islam, Peranan Umat Islamdalam Perkembangan Ilmu pengetahuan, (Bandung : diponegoro, 1997, cet. II, h. 81
[16] . George N, Atiyeh, Op. Cit.h.42
[17] . ibid, h. 55
[18]. Prof. Dr. H. Sijaruddin Zar, M.A, Op. Cit, h. 50 
[19]. George N, Atiyeh, Op. Ci, .h. 58
[20] . sama dengan yang di kutip Prof. Dr. H. Sijaruddin Zar, M.A, Op. Cit, h. 55 dari Muhammad ‘Athif Al-‘Iraqy,Tajdid fi al-Mazhab al-Falsafiyyat wa al-Kalamiyyat, (kairo: Dar Al-ma’arif, 1997), cet IV, h. 90-91
[21]. George N, Atiyeh, Op. Cit.h.79

[22] . Prof. Dr. H. Sijaruddin Zar, M.A, Op. Cit, h. 60
[23] . Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1978), h.19-20
[24]. Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.[1] Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika.[Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika). Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Etika

[25] . George N, Atiyeh, Op. Cit.h. 117
[26] . ibid, h. 118
[27] . ibid, h. 118

Rabu, 09 November 2011

Pemikiran as-ariyah

1. akal dan wahyu
yakni memprioritaskan wahyu sebagai penentu atas kewajiban-kewajiban dan semua itu dari wahyu akal tidak akan mampu tanpa ada ahyu.

2. sifat-sifat tuhan
tuhan mempunyai sifat dan kekal bersama tuhan. tapi tidak berada di luar dan didalam dzat tuhan.

3. kebebasan dalam berkehendak
asyar mengambil jalan tengah antara odariyah dan jabriyah yang di kenal dengan kasb. namun agak condong pada qoariyah tapi dalam beberapa bidang juga seperti qodariyah bisa di simpulkan dilain sisi qodariyah dan di sisi lain juga jabariyah.

4. keadilan tuhan menempatkan sesuatu pada tempatnya itu yang di sebut dengan adil. namun " tuhan memepunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluknya dan dapat berbuat terserah kehendak-Nya"

5. kebaikan dan keburukan
mengikuti paham jabariyah yakni tergantung kepada tuhan.

6. pelaku dosa besar
as ariyah tidak serta merta mengkafirkan pelaku dosa besar "selama pelaku dosa besar itu sendiri menganggap bahwa perbuatanya itu halal dan tidak percaya kalau perbuatannya itu harama" maka baru disbut kafir

7. konsep keimanan
iman itu tasdiq, untuk mengetahui kewajiban melalui wahyu.

Kamis, 13 Oktober 2011

 Aliaran-aliran filsafat islam

1. Paripatetik
2. Illuminasi
3. Irfan
4. Himah muta'aliyyah

a. paripatetik
    filsafat ini di ambil dari filsafat aristoteles yang mengacu pada akal dan logika.

a.1. Epistemologi
       Bentuk dan materi yang berubah adalah materinya tapi bentuknya tidak (idea)
contoh: spidol ketika terkena cahaya akan menghasilkan bayangan, dan yang di sebut dengan materinya adalah banyangan, ketika cahaya berpindah bayangan akan selalu berubah atau bergerak tapi untuk spidolnya (bentuk) tidak akan berubah.
Herkalitos mengatakan: "segala sesuatu ada perubahannya", namun berbeda dengan Plato ia mengatakan bahwa: yang berubah hanyalah materinya.
a.2. Ontologi
       Hylenormatis : segala sesuatu berasal dari materi. dan materi adalah bahan yang berpotensi
 namun prinsip dari filsafat adalah "materi itu tidak bisa mewujudkan dirinya sendir. (mungkirul wujud) untuk bisa mewujudkan dirinya butuh dengan wujud yang actual (wajibul wujud)
.
contoh: perempuan mempunya potensi hamil namun perempuan tidak bisa menghamili dirinya sendiri dia membutuhkan seorang laki-laki untuk mengembangkan potensinya.

dalam filsafat wajibul wujud adalah yang actuall yakni Allah dan Alam. namun Allah wajibul wujud li dzatihi dan alam wajibul wujud li ghairihi. dan Allah juga di sebut dengan Actuall murni yang tidak berawal fdan tidak ada akhir.
mustahil wuijud adalah musthail Allah yidak actuall dan berpotensi.
Contoh: bisahkah Allah maha kuasa membunuh dirinya sendiri? tentu tidak bisa karena kata bisa di analogiikan seperti di atas, kalau bisa berarti bukan mustahil wujud melainkan mungkiru;l wujud.

A.3. Kosmologi
untuk kosmologi paripatetik ini mengacu pada teori Imanasi yang berasal dari aliran Neo-platonisme yang dikembangkan oleh Al-Farabi sekaligus orang pertama yang merumuskannya.